Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Sudah Terbit!

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Sudah Terbit!

Penulis (Teguh Hidayat) di acara Berkshire Hathaway Annual Meeting 2022 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang dihadiri langsung oleh investor legendaris Warren Buffett.

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat Ebook Investment Planning (EIP, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Q2 2024. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.

  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas, sedangkan perusahaannya sendiri berkinerja buruk dan bermasalah. Contoh saham gorengan Hanson International (MYRX), Trada Alam Minera (TRAM), Sugih Energy (SUGI), dst. Jadi ebook ini secara tidak langsung membantu anda menghindari saham-saham berbahaya tersebut.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Valuasinya undervalue/murah. Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih dari resesi seperti sekarang, maka khusus edisi kali ini, kami juga memasukkan sejumlah saham-saham dengan valuasi yang amat sangat murah, yang berpeluang untuk naik hingga ratusan persen (saham-saham multibagger), ketika nanti periode krisisnya berakhir. Penjelasan tentang saham multibagger bisa dibaca lagi disini.

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan tingkat rekomendasi (beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya), tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya jika ada. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan Agustus 2024, dan anda bisa langsung memesannya disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,400.

Screenshot tampilan ebooknya, salah satu edisi sebelumnya.

Mengapa Anda Membutuhkan EIP ini?

  1. Pekerjaan wajib bagi investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang), dengan melakukan screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami sebagai profesional, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding akumulasi trading fee, pajak penjualan, dan bea meterai yang otomatis anda bayarkan melalui sekuritas setiap kali anda melakukan transaksi.
  3. Satu-satunya produk analisa saham paling independen dan paling terpercaya di Indonesia yang sudah terbit sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun, yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang krisis. Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi semua pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager/investor institusi.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi dan penulis value investing pertama di Indonesia (sejak tahun 2010) dengan track record kinerja investasi yang terbukti baik, dan dengan gaya bahasa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Eksklusif: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi portofolio atau minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
***

Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Ada pertanyaan? Hubungi Telp/SMS/Whatsapp 0821.1001.1100 (Nury), atau 0821.1165.7177 (Yanti). Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek Tanya EIPTersedia pula EIP edisi sebelumnya (Q1 2024), tentunya pada harga diskon.

Anda pembaca baru TeguhHidayat.com? Maka anda mungkin tertarik untuk membaca koleksi EIP edisi-edisi sebelumnya (sejak tahun 2011 sampai tahun 2021), dengan harga subsidi. Info selengkapnya baca disini.

Bagi anda pemula yang ingin belajar investasi saham secara lengkap dan menyeluruh, bisa bergabung di live webinar bulanan disini.


Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 24 Agustus 2024

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 24 Agustus 2024

Penulis (Teguh Hidayat) di acara Berkshire Hathaway Annual Meeting 2022 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang dihadiri langsung oleh investor legendaris Warren Buffett dan mitranya Charlie Munger.


Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham dengan tema Value Investing. Kelas webinar ini merupakan lanjutan dari kelas seminar reguler dengan tema Value Investing basic & Advanced, dimana kita akan diskusi dua arah & tanya jawab, serta me-review kembali materi yang sudah disampaikan di videonya.

Jadi pada webinar ini, anda berkesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan terkait materi seminarnya untuk nantinya dijawab langsung oleh penulis sebagai pemateri. Selain itu anda juga bisa mengajukan pertanyaan, atau konsultasi terkait point-point berikut:

  1. Analisa serta prospek dari emiten/saham tertentu, tentunya dari sudut pandang fundamental dan value investing,
  2. Pengetahuan umum tentang investasi saham, dunia keuangan, hingga ekonomi, termasuk penjelasan lebih detail tentang istilah-istilah tertentu di dunia pasar modal,
  3. Prospek dan arah pasar ke depan berdasarkan kondisi makro ekonomi, kinerja terbaru emiten, dll
  4. Masukan untuk posisi portofolio anda saat ini, tentang saham-saham apa saja yang harus dijual, hold, atau beli lagi,
  5. Diskusi tentang rencana investasi anda, entah itu untuk investasi jangka panjang/tabungan pensiun melalui legacy stock, semi-trading beberapa bulan, hingga investasi high risk high gain pada saham-saham multibagger, dan
  6. Rekomendasi saham-saham pilihan.

Durasi webinarnya adalah 2 sesi masing-masing selama 50 menit, diselingi istirahat selama 10 menit. Webinarnya menggunakan aplikasi Google Meet, dan akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Agustus 2024, pagi mulai pukul 08.00 s/d 10.00 WIB.

Berikut cuplikan salah satu webinar sebelumnya, dengan topik cara dan tips memilih broker/sekuritas saham:


Biaya untuk ikut webinar ini adalah gratis! Namun karena pada webinar ini lebih banyak ke sesi diskusi & tanya jawab, maka untuk bisa memahami materinya secara menyeluruh, anda harus terlebih dahulu menonton video seminar yang disebutkan diatas (untuk memperoleh videonya, klik disini. Videonya adalah yang terbaru tahun 2024).

***

Dan berikut cara daftar:

1. Pastikan bahwa anda sudah membeli dan menonton video seminar secara menyeluruh (Basic & Advanced). Jika belum menonton, maka anda bisa membeli videonya disini. Catatan: Anda cukup satu kali saja membeli videonya, dan setelah itu anda bisa rutin ikut webinarnya setiap bulan.

2. Setelah itu kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Webinar Indonesia, dan isi: Nama lengkap anda. Contoh: Erling Haaland. Tempat terbatas: Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta sudah memenuhi kuota maksimal 100 orang.

3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Sehari sebelum acaranya, anda akan menerima email lagi yang berisi link untuk bergabung dengan webinarnya, serta peraturan tata tertib acaranya.

Demikian, sampai jumpa hari Sabtu, 24 Agustus mendatang!

Penulis bersama peserta seminar tatap muka, tahun 2023


Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0821.1001.1100 (Nury), atau 0821.1165.7177 (Yanti). Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial

Sejak awal saya tekun mempelajari pengetahuan untuk melakukan analisa teknikal mulai dari price action, volume analysis, Ichimoku (bahkan sampai belajar dari orang Jepangnya sendiri). Namun, meski begitu, terasa masih ada yang kurang ketika mengandalkan analisa teknikal ini. Dan sekitar 2 tahun lalu, saya mulai membaca artikel artikel di Teguhhidayat.com dan mulai mengenal value investing dan memutuskan untuk memperdalam pengetahuan fundamental ini. Tidak terasa waktu berlalu, dan semakin lama saya mempraktekkan analisa fundamental, semakin terlihat ada keterkaitan yang erat dengan perubahan tren bearish ke tren bullish yaitu ketika harga saham sudah undervalue dan dari tren bullish ke bearish yaitu ketika harga saham sudah overvalue. Betapa, reboundnya harga dari support major yang seringkali mencerminkan valuasi murahnya atau valuasi wajarnya. 

Dan bedanya kini, adalah hati saya lebih tenang karena saya tahu saham apa yang saya beli, jadi meski chart menunjukkan fluktuasi jangka pendek atau membentur resisten, saya masih bisa tenang karena mengetahui kondisi fundamental dari saham tersebut (apakah masih bertumbuh sehingga valuasinya bisa menjadi lebih tinggi, masih belum terlalu tinggi dan seterusnya). 

Dan apa yang pak Teguh sharekan disini tentang annual letter dari Warren Buffet benar-benar lebih membantu saya untuk memahami kekayaan dari seni berinvestasi itu sendiri (yang mana saya semakin hari semakin mencintainya). Terima kasih, pak Teguh sekali lagi untuk kemurahan hatinya yang mengshare harta karun seperti ini.

Jemmy Purwanto.


Mengenal Saham Batubara Terbesar, dan Termurah di BEI

Mengenal Saham Batubara Terbesar, dan Termurah di BEI

Perusahaan batubara PT Indika Energy, Tbk (INDY) melaporkan laba bersih $21.0 juta untuk laporan keuangan (LK) periode Q2 2024, anjlok lebih dari 75% dibanding periode yang sama tahun 2023 sebesar $89.8 juta, dan memang tak lama setelah LK-nya rilis sahamnya langsung drop dari 1,390 hingga 1,310, meski kemudian naik lagi ke posisi sekarang 1,360. However penulis melihat bahwa INDY ini mungkin lebih menarik dibanding saham-saham batubara besar lainnya seperti Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), atau Bukit Asam (PTBA), di mana saham INDY bisa naik 80% atau lebih jika nanti batubara booming lagi. Dan berikut analisanya.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru Q2 2024 akan terbit Kamis, 8 Agustus 2024, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 Agustus, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

***

Sejarah INDY dimulai pada tahun 2000, ketika Grup Indika milik Alm. konglomerat Sudwikatmono melihat adanya peluang di sektor energi, sehingga beliau pada tahun ini mendirikan PT Indika Energy. Lanjut tahun 2004, Indika Energy mengakuisisi aset pertamanya yakni 41% saham PT Kideco Jaya Agung, yang merupakan perusahaan batubara terbesar ketiga di Indonesia (setelah PT Kaltim Prima Coal yang merupakan anak usaha dari PT Bumi Resources, Tbk (BUMI), dan Adaro Indonesia yang merupakan anak usaha dari PT Adaro Energy, Tbk (ADRO)), dan pada tahun 2006 kepemilikan tersebut ditambah menjadi 46%. Selain itu perusahaan juga mendirikan dan/atau akuisisi anak usaha di bidang engineering, procurement, and construction (EPC), pembangkit listrik, perdagangan batubara, transportasi batubara, hingga pelabuhan. Tahun 2008, Indika Energy go public dengan ticker INDY, dan setelah itu perusahaan kembali akuisisi ini itu, dan sebaliknya melepas anak usaha yang dianggap tidak produktif. Tahun 2017, INDY sekali lagi menambah kepemilikannya di Kideco hingga perusahaan sekarang memegang 91% saham Kideco, sehingga sejak tahun 2017 inilah INDY bisa disebut sebagai emiten batubara terbesar ketiga di BEI, setelah BUMI dan ADRO. However memasuki tahun 2018 sampai sekarang INDY lebih banyak berinvestasi di bidang non batubara, termasuk melepas salah satu anak usahanya di bidang logistik batubara yakni PT Mitrabahtera Segara Sejati, Tbk (MBSS), dan juga kontraktor batubara yakni PT Petrosea, Tbk (PTRO). Meski demikian untuk Kideco tetap dipertahankan, dan alhasil ketika batubara booming pada tahun 2022 lalu maka INDY juga sukses cetak rekor pendapatan $4.3 miliar, serta laba bersih $452.7 juta, meski kemudian laba bersih tersebut turun lagi seiring meredanya booming tersebut.

Hingga pada hari ini, INDY melalui Kideco masih menjadi perusahaan batubara terbesar ketiga di tanah air dengan volume produksi yang sempat mencapai 40.3 juta ton pada tahun 2014, meski kemudian turun menjadi 30.1 juta ton pada tahun 2023, dan di luar itu perusahaan juga masih memegang anak usahanya di bidang EPC, perdagangan batubara, pembangkit listrik tenaga uap, serta pelabuhan untuk pengangkutan batubara. Kemudian untuk segmen non batubara, maka INDY memiliki anak usaha di bidang tambang emas, tambang bauksit, tambang bijih nikel, jasa kesehatan, hingga jasa teknologi digital. Di luar itu INDY juga mulai gencar berinvestasi di sektor energi terbarukan dengan cara mendirikan anak usaha di bidang pembangkit listrik tenaga surya, produksi sepeda motor listrik, hingga stasiun pengisian kendaraan listrik (charging station). Namun demikian hingga Q2 2024, maka dari total pendapatan INDY sebesar $1.2 miliar (tepatnya $1,197 juta), hanya $25 juta diantaranya yang berasal dari bisnis non batubara. Dan memang manajemen INDY sendiri mentargetkan perusahaan baru akan mencapai ‘net zero carbon’ pada tahun 2050, alias masih lama sekali. Sedangkan sebelum itu maka sekali lagi, hampir seluruh pendapatan masih akan tetap berasal dari penjualan batubara serta jasa pendukungnya.

Kembali ke kinerja perusahaan. Seperti disebut di atas, setelah mencapai puncaknya di tahun 2022 maka seiring dengan kembali turunnya harga jual batubara, maka kinerja INDY juga ikut turun dan sampai Q2 2024 ini masih belum mampu naik lagi, karena di sisi lain volume produksi batubaranya cenderung stagnan di 14.9 juta ton di sepanjang semester 1 2024, alias tidak berubah dibanding periode yang sama tahun 2023, yang juga 14.9 juta ton. Kemudian karena INDY sudah tidak lagi memegang MBSS dan PTRO, serta juga sudah melepas anak usaha tambang batubaranya yakni PT Multi Tambangjaya Utama (dijual ke PT Petrindo Jaya Kreasi, Tbk (CUAN)), plus di sisi lain investasinya di energi terbarukan masih belum menghasilkan pendapatan signifikan, maka jadilah labanya drop hingga tinggal seperempatnya dibanding tahun 2023, padahal laba INDY di tahun 2023 tersebut juga turun dibanding tahun 2022. Alhasil sahamnya juga terus turun dari puncaknya 3,300 di bulan Juni 2022 hingga sekarang tinggal 1,360, malah baru saja bulan Juni 2024 kemarin dia drop sampai 1,160, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang seiring kenaikan saham-saham batubara secara umum dalam sebulanan terakhir.

Nah, tapi sekarang kita ke kabar baiknya. You see, ketika INDY hingga tahun 2017 lalu terus saja ekspansi akuisisi ini itu, maka perusahaan membiayai ekspansinya tersebut dari utang baik itu utang bank maupun obligasi, dan alhasil pada satu titik debt to equity ratio (DER) perusahaan bisa mencapai 3 atau bahkan 4 kali. Kemudian besarnya utang ini menyebabkan beban bunga utang perusahaan juga jadi besar, dan alhasil laba bersih INDY tidak pernah sebesar katakanlah PTBA atau ITMG, tak peduli meski volume produksinya lebih besar. Dan lagi setiap kali harga batubara drop dan pendapatannya ikut drop, maka laba bersih INDY tidak hanya sekedar turun melainkan langsung berbalik menjadi rugi bersih, karena beban bunganya tetap. Penulis kira inilah kenapa valuasi saham INDY selama ini selalu lebih rendah dibanding ADRO, PTBA, dan ITMG, yakni karena kinerja laba bersihnya memang tidak sebagus tiga raksasa batubara tersebut, tak peduli sektor batubara itu sendiri sedang booming atau tidak. Termasuk pada harga sahamnya sekarang di 1,360, maka PBV INDY cuma 0.4 kali, which is jauh lebih rendah dibanding PTBA yang mencapai 1.6 kali.

Namun demikian memasuki tahun 2018 sampai sekarang maka INDY pelan-pelan mulai mengurangi utangnya, salah satunya dengan cara menjual anak-anak usahanya itu tadi lalu uangnya dipakai buat bayar utang. Dan alhasil hingga Q2 2024 total liabilitas INDY tercatat tinggal $1.8 miliar, turun dibanding $2.8 miliar di tahun 2021, dan mencerminkan DER 1.5 kali. Lalu demikian pula beban bunga utangnya turun, dan imbasnya meskipun labanya sejauh ini masih turun dibanding 2023, tapi perusahaan setidaknya tidak sampai mencatat rugi meskipun pendapatannya drop signifikan.

Nah, jadi sampai sini anda bisa baca jalan pikiran penulis bukan? Perhatikan: Secara valuasi, saham INDY pada saat ini masih sama murahnya seperti di masa lalu (PBV hanya 0.4 kali), yakni ketika perusahaan menderita rugi karena kombinasi antara tingginya beban bunga utang serta turunnya harga batubara. Padahal hari ini posisi neraca INDY sudah jauh lebih sehat dan memang perusahaan juga tidak sampai menderita rugi, yang itu artinya jika besok-besok harga batubara kembali naik maka laba bersihnya akan lompat dengan mudah. Sedangkan seperti yang Maret kemarin kita bahas disini, maka memang ada peluang bahwa penurunan harga batubara Newcastle yang pada awal tahun lalu mentok di $120 – 130 per ton, selanjutnya bisa saja naik lagi. Dan memang sejauh ini harga batubara masih bertahan di $130 – 140 per ton, dan sepertinya tinggal tunggu suku bunga Fed Rate turun saja, lalu baru komoditas termasuk batubara akan rally lagi sehingga laba bersih INDY juga akan ikut naik, namun kali ini dengan margin laba yang lebih besar, yakni karena beban bunganya sudah berkurang. Penulis perkirakan jika nanti batubara kembali booming, maka kali ini nilai laba bersih INDY akan mendekati laba bersih dari PTBA dan juga ITMG, albeit tidak akan sampai menyamai karena ingat bahwa PTBA dan ITMG hampir tidak punya utang bank/obligasi sama sekali (sedangkan INDY masih punya utang meski berkurang).

Kemudian karena di sisi lain valuasi saham INDY dari sisi PBV jauh lebih rendah dibanding PTBA dan ITMG, maka itu artinya? Yup, kenaikan sahamnya juga akan lebih tinggi, minimal sampai 2,500 (PBV 0.7 kali) aka naik 83% dari posisi harganya saat ini, dan maksimalnya bisa sampai berapa saja. Harga batubara Newcastle itu sendiri penulis perkirakan tidak akan sampai balik lagi ke level $460 seperti di tahun 2022 lalu, bahkan $300 pun tidak, melainkan mungkin cuma sampai $170 – 200 saja per ton, karena biar bagaimanapun trend penggunaan energi dunia sekarang ini sudah bergeser ke energi terbarukan. Tapi jika nanti benar harga batubara naik kesitu maka INDY berpeluang untuk mencetak laba bersih yang mendekati atau bahkan sama besarnya dengan rekor laba bersihnya di tahun 2022 lalu, simply karena beban bunganya turun dibanding tahun 2022 tersebut. Dan pada saat itu maka tentu saja harga sahamnya tidak akan lagi stuck di kisaran 1,200 – 1,400 seperti sekarang.

Anyway, faktanya harga batubara Newcastle sampai sekarang masih mentok di $140-an (bisa dicek disini), dan demikian pula laba INDY sampai Q2 2024 masih minimalis dengan ROE disetahunkan hanya 3.4%. Jadi penulis sendiri juga tidak akan buru-buru beli sahamnya. Namun demikian bagi anda yang sudah pegang INDY sejak awal maka tetap hold, dan boleh siap-siap untuk tambah lagi jika nanti harga batubara akhirnya tembus, let say, $150 per ton.

***

Hingga akhir Juli 2024, Avere Investama mencatat kinerja profit +9.0% berbanding IHSG -0.2%, dihitung sejak awal tahun. Untuk melihat daftar saham yang kami pegang serta alokasi dananya, klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Saham Dyandra Media International (DYAN) Terbang 20%, Prospeknya?

Saham Dyandra Media International (DYAN) Terbang 20%, Prospeknya?

Perusahaan event organizer salah satu yang terbesar di Indonesia, PT Dyandra Media International, Tbk (DYAN) melaporkan laba bersih Rp86 miliar di Q2 2024, lompat 56.7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, serta mencerminkan ROE disetahunkan 26.4%, yang menjadikannya salah satu emiten dengan kinerja terbaik di BEI untuk periode Q1 2024 (karena mayoritas emiten lain kinerjanya turun, atau bahkan rugi). Karena di sisi lain valuasinya sangat rendah dengan PBV hanya 0.6 kali, maka tak lama setelah LKnya rilis sahamnya terbang lebih dari 20% ke posisi sekarang (108). Nah, tapi karena bahkan pada harga 108 tersebut, valuasi DYAN masih tampak murah dengan PER 2.7 dan PBV 0.7 kali, maka apakah sahamnya masih bisa dikejar?

***

Hingga akhir Juli 2024, Avere Investama mencatat kinerja profit +9.0% berbanding IHSG -0.2%, dihitung sejak awal tahun. Untuk melihat daftar saham yang kami pegang serta alokasi dananya, klik disini.

***

DYAN, seperti disebut di atas, bergerak di bidang penyelenggaraan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), di mana perusahaan memperoleh pendapatannya dari mengelola acara rapat, konser, pameran dll di ruang rapat hotel dan gedung-gedung besar. DYAN adalah penyelenggara event tahunan Indonesia International Motor Show (IIMS), acara G20 meeting di Bali pada tahun 2022 lalu, Konser NCT 127, dan banyak lagi. Selain menggelar MICE, perusahaan juga memiliki gedung convention milik sendiri seperti Bali Nusa Dua Convention Center, serta jaringan Hotel Santika dan Hotel Amaris. DYAN didirikan dan dimiliki oleh Grup Kompas Gramedia, dan dipimpin langsung oleh Lilik Oetomo (putra dari founder Grup Kompas Alm. Jakob Oetama), yang menjabat sebagai komisaris utama. Per akhir tahun 2023 DYAN menguasai 20% pangsa pasar industri MICE di Indonesia, dan manajemen menargetkan pangsa pasar tersebut akan naik menjadi 30% dalam beberapa waktu ke depan.

Kemudian kita tahu bahwa bisnis MICE adalah salah satu yang paling terpukul di masa pandemi, padahal sebelum pandemi sekalipun bisnis ini tidak terlalu menguntungkan, karena tidak setiap hari ada event pameran dll. Alhasil pada tahun 2020 lalu DYAN rugi sampai Rp256 miliar, dan di tahun 2021-nya kinerja perusahaan agak membaik tapi masih rugi Rp88 miliar. Barulah di tahun 2022, seiring meredanya pandemi maka DYAN juga sukses cetak rekor pendapatan Rp1.2 triliun, aka sudah lebih besar dibanding pendapatannya di tahun-tahun sebelum pandemi, dan kali ini laba bersihnya juga sudah positif tepatnya Rp31 miliar. Pada titik ini penulis sendiri belum melirik DYAN meskipun kinerjanya sudah kembali profit, yakni karena alasan itu tadi: Dulupun ketika gak ada pandemi kinerja DYAN terbilang biasa-biasa saja, dan itulah alasannya kenapa harga sahamnya selama ini juga disitu-situ saja (100 perak, atau bahkan mendekati gocap). Kemudian meski laba Rp31 miliar tadi merupakan rekor laba terbesar sepanjang sejarah perusahaan, tapi laba itu hanya mencerminkan ROE 6% saja, alias masih kecil sebenarnya.

Namun memasuki tahun 2023, yakni setelah pendapatan dan laba DYAN kembali naik dan kali ini ROE-nya mencapai 13.7%, maka opini saya terhadap sahamnya mulai berubah, terutama karena saham DYAN sampai akhir 2023 kemarin masih belum kemana-mana di Rp80 – 90 (sempat naik sampai 132 di bulan Mei 2023, tapi turun lagi seiring lesunya pasar), dan karena industri MICE itu sendiri mulai booming lagi setelah pandeminya reda sama sekali. Jadi saya perkirakan bahwa laba DYAN akan kembali naik di tahun 2024 ini, dan jika benar demikian maka sahamnya pada akhirnya akan lompat. Karena itu artinya genap tiga tahun berturut-turut kinerjanya konsisten bertumbuh (sejak 2021), tapi selama tiga tahun tersebut sahamnya sama sekali masih belum jalan (pada tahun 2021 lalu, saham DYAN juga sudah berada di level 90 – 100), sehingga otomatis valuasinya menjadi sangat murah.

Dan memang seperti disebut di atas, hingga Q2 barusan laba DYAN kembali naik, dan mestinya masih akan naik sampai akhir tahun nanti karena event-event terbesar milik perusahaan seperti International Franchise, License, and Business Concept Expo & Conference (IFRA), Jakarta Wedding Festival (JWF), dan ASEAN Energy Business Forum (AEBF), justru baru akan diselenggarakan pada semester dua. Sehingga jika semuanya on track, maka DYAN bisa naik ke 170 - 200 yang mencerminkan PER 4.5 – 5.3 kali dan PBV 1.2 – 1.4 kali, which is sebenarnya masih murah juga, tapi penulis tidak bisa pasang target yang lebih tinggi karena saham DYAN ini kurang likuid, dan karena nama ‘Dyandra’ itu sendiri juga tidak populer.

Tinggal beberapa hal. Pertama, tadi disebutkan bahwa bisnis MICE ini kurang menguntungkan karena tidak setiap hari ada event pameran, dan imbasnya kinerja DYAN bisa sangat fluktuatif dari kuartal ke kuartal, malah baru saja di Q1 2024 kemarin labanya tampak turun. Kedua, karena sahamnya tidak likuid, maka setiap kali perusahaan rilis LK dan hasilnya tampak kurang bagus sedikit saja, maka harganya bisa langsung anjlok (karena banyak yang jualan tapi gak ada yang nampung), dan sebaliknya jika hasilnya tampak sangat bagus seperti barusan maka harganya langsung terbang (karena banyak yang haka tapi gak ada yang jual). Dua faktor ini kurang disukai oleh investor fundamentalis terutama yang bermodal besar, dan actually penulis sendiri juga sampai sekarang belum benar-benar masuk, karena pertimbangan nanti jualnya gimana kalau ternyata kinerja perusahaan tidak sesuai ekspektasi. Dan mungkin karena itu juga sahamnya belum jalan lagi sejak 2021 lalu sampai sekarang, tak peduli ekuitas, pendapatan, dan labanya terus naik dari tahun ke tahun (jadi fluktuatifnya hanya secara kuartalan saja, kalau secara tahunan maka kinerja DYAN terus naik).

Nevertheless, jika dibandingkan dengan banyak sekali saham-saham di BEI yang justru turun dalam waktu 1, 2, dan 3 tahun terakhir seiring kinerjanya yang tidak cukup bagus (seperti disebut di atas, sampai Q2 2024 ini ada banyak emiten yang labanya justru turun), maka saham DYAN sejatinya masih naik lumayan dalam hal ini naik 100% atau dua kali lipat, dibanding posisi terendahnya di akhir 2020 lalu yakni 50, dan harusnya dia masih bisa naik lebih tinggi lagi dalam waktu 2 – 3 tahun ke depan seiring momentum pertumbuhannya yang masih terjaga sampai sekarang. Kemudian meski penulis tidak akan rekomen sahamnya jika alokasi belanja anda mencapai Rp1 – 2 miliar per saham, tapi jika budget anda masih di level puluhan hingga Rp100 – 200 juta, maka DYAN masih ok. Just buy it now using half the money, dan sisanya baru dihabiskan kalau besok-besok dia turun lagi ke 85 – 95.

***

Hingga akhir Juli 2024, Avere Investama mencatat kinerja profit +9.0% berbanding IHSG -0.2%, dihitung sejak awal tahun. Untuk melihat daftar saham yang kami pegang serta alokasi dananya, klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia